Friday, August 22, 2014

CINTA DIPERPUSTAKAAN



Berawal dari kejadian di perpustakaan di siang hari pada hari Senin tanggal 8 Oktober 2012. Berawal dari kasus kehilangan sejumlah kartu anggota dari teman-teman. Aku Qori mencoba menelusuri sejumlah kartu yang belum ada, kenapa bisa terjadi? Dalam perbincangan dengan salah satu staf perpustakaan yang ada sebut namanya mas Edi, aku belum bisa menemukan solusinya. Dalam keasyikan perbincangan, sesosok lelaki dengan sedikit penasaran mencoba menanyakan apa yang terjadi. namun karena kurang jelas dengan jawaban yang diberikan. Maka lelaki tersebut mendekat dan menanyakan kelas apa? kemudian Aku menjawab kalau aku kelas 1C jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Maka lelaki tersebut yang diketahui namanya Mas Slamet. mengenali Aku. Hal tersebut dikarenakan adik kelasnya (Mr. Sam) adalah teman sekelasku. 
Karena rasa tahu tersebut akhirnya diantara Aku dan Mas Slamet terjadi percakapan yang cukup fair dan serasa sudah sangat kenal. Aku dan mas Slamet akhirnya bercakap-cakap hingga perpustakaan tutup. Kami bercakap di pojok perpustakaan di tempat pengecekan buku keluar. Tak terasa sudah waktu sudah menunjukkan pukul 13.40 WIB dan mas Slamet pun mengajakku untuk melaksanakan shalat duhur berjamaah. Pada awalnya aku menolak karena aku ingin melaksanakan shalat duhur di tempat kos saja. Namun, karena mas slamet mengajak shalat lebih dari 3 kali akhirnya akupun bersedia di ajak shalat duhur berjamaah. Akhirnya kami melaksanakan shalat duhur berjamaah di mushola fakultas Ekonomi UNP Kediri. Usai melaksanakan shalat dhuhur berjamaah dengan orang yang tak pernah Aku kenal sebelumnya, aku bergegas kembali ke kos-anku yang letaknya tidak jauh dari kampus. Mungkin suatu penghindaran karena tidak ingin menjadi sesuatu yang berlarut-larut, karena pada hari itu juga aku menjadi bukan aku. Penyakit pikiran yang sedang menggangguku yang menyebabkanku harus memutuskan refreshing ke perpustakaan. Masalah yang benar-benar membuat aku sangat kacau sekali. Beruntung percakapan yang tidak begitu lama, membuatku lupa akan masalah. Masalah yang mengganggu hari-hariku. Satu hal yang mengingatkanku dari percakapan yang aneh banget dan dikatakan cukup panjang, tidak singkat. Dia melamarku padahal aku tahu diapun sedang menunggu jawaban dari wanita lain. Pada saat itu aku berpikir, itu mungkin hanya gurauan belaka (biasalah namanya laki-laki, gombal dan bercanda!) aku tiba di kos langsung berbaring karena memang saat itu lagi puasa dan lelah banget. Tiba-tiba handphone yang berada disamping telingaku berbunyi, satu pesan masuk. Segera aku membukanya, ucapan selamat ulang tahun dari nomor baru yang tidak ku kenal sebelumnya, siapa ya? (pikirku demikian) aku balas dan kenapa bisa tahu kalau bulan ini aku berulang tahun? Ternyata nomor baru itu adalah lelaki yang mengajakku sholat berjamaah di perpustakaan tadi, kaget!(hmmm cukup untuk hari ini berlalu).
Pagi di hari selasa tepat pukul 03.58, pertanyaan yang membuatku kaget dan membingungkan sehingga tak mampu aku menjawabnya, tertulis di telepon genggamku yang dikirim dari nomor mas Slamet, lelaki yang jelas-jelas baru aku kenal Senin siang. Dia mengatakan “maukah kamu menjadi kekasih halal ku?” “izinkan aku meminangmu dengan Bismillah” aku harus jawab apa pada saat itu, sungguh sangat bingung sekali, agar tidak terlalu membuatku terlalu kepikiran, aku putuskan untuk sholat shubuh berjamaah dulu di masjid depan kosku agak ke timur sedikit supaya ada sedikit pencerahan dalam otakku ini. Usai sholat shubuh, aku berusaha menjawab dengan menata hatiku dengan teliti dan menjelaskan agar tidak ada yang merasa dikecewakan dan tersakiti, karena hari-hari itu aku masih memikirkan permasalahanku dengan teman dekatku sebut saja Mr. D (waktu itu). Permasalahan yang cukup rumit dan menguras tenaga dan pikiran, yang setiap hari selalu aku dikelilingi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabnya, sungguh sangat menyakitkan. Sebenarnya sudah ingin sekali aku pergi jauh dari permasalahan yang selalu tidak pernah ada jawaban kepastiannya “mau diapakan hubungan ini?” disetiap saat aku masih selalu mengingat-ingat pertanyaan yang diajukan oleh petugas perpustakaan itu. Mau aku jawab apa? Pikirku. Apa aku jawab aku sudah ada yang punya (berarti mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dan dia Mr. D sudah mengatakan hanya berteman saja, tapi anehnya dia tidak mau melepaskanku itu yang membuatku semakin tergantung hatinya) padahal kenyataannya aku tidak punya siapa-siapa (dan itu benar), kalau aku jawab demikian berarti aku telah berbohong. Banyak alasan yang aku berikan kepada petugas itu agar dia tidak begitu kecewa denganku, tapi sungguh diluar dugaanku, dia malah tetap kokoh dengan pendiriannya. Salut banget!!! Alasan yang aku berikan kepadanyapun tidak menyulitkan satu sama lain hanya butuh waktu untuk menjawab semua itu. “Mas, kita itu baru kenal, kita kenal itu tidak butuh dua/tiga hari langsung bilang iya, aku belum kenal sama kamu dan kamupun demikian, aku takut kamu kecewa sama aku. Ya kita jalani saja dulu perkenalan kita ini, seiring waktu yang menjawabnya.” Itu alasan yang aku berikan kepada mas Slamet. Dengan keikhlasan dia menjawab “iya Alhamdulillah, Mas tahu kamu bagaimana prinsip hdupnya. Semoga dengan berjalannya waktu, jawaban menggembirakan akan mas dapat, rumah mas di rumah Alah, jamaah dalam sholat, semoga tetap bisa terlaksana.” Jujur baru kali ini ada cowok yang langsung melamarku. Tapi aku masih tidak percaya dengan semua ini, sampai-sampai teman ku yang aku ceritakan (adiknya mas Slamet) aku katakan kalau itu hanya sebuah gurauan. Alasan-alasan yang ku sampaikan kepadanyapun setiap hari masih ku ingat. Malam setelah magrib, aku diajak berbuka puasa bareng sama mas Slamet dan aku merencanakan menjelaskan semuanya. Dan malam itu menjadi kencan pertamaku bersama mas Slamet. Di warung bakso pinggir jalan, warung bakso Barokah namanya. Di situ pulalah aku menjelaskan kepadanya, siapa aku dan bagaimana aku. Walaupun bukan di tempat seperti itu menjelaskan hal yang sangat serius. Penjelasan hati itu sudah aku rencanakan sebelumnya agar permasalahannya menjadi lurus dan terang. Kesempatan itu terlaksana dan mendapatkan kesimpulan kita menjalani pertemuan ini. Di setiap kesempatan aku masih saja pergi ke perpustakaan, masih dengan hal yang sama, yaitu tanggungjawabku terhadap teman-temanku karena aku ketua kelas, kalau aku tidak pernah tegar dalam menghadapi semacam itu, mungkin aku tidak pernah berani lagi datang ke perpustakaan dan menemui pemuda itu, apalagi bercengkerama dengannya.
Jumat pagi, aku ada janji dengan temanku Yulia namanya. Sambil aku menunggunya, aku pun ke perpustakaan, tidak hal lain yang tidak asing lagi, hal sama yaitu memperbaiki kartu anggota perpustakaan teman sekelasku. Aku bertemu lagi dengan mas Slamet dan saling berbincang lagi, karena pada saat itu hari jumat dan jadwalku untuk pulang kampung (hehehe) mas Slamet menawarkan untuk mengantarkanku pulang ke Nganjuk (Termas Babadan Patianrowo). Awalnya aku menolaknya karena aku juga ada janji dengan temanku akan menjemputku usai maghrib. Setelah urusan kartu selesai dan masuk waktu sholat jumat, mas Slamet pun bersiap-siap sholat jumat dan aku segera mencari temanku yang sedang mengikuti tes masuk Himaprodi (kalau SMA sama dengan OSIS). Setelah aku menemui ruangan temanku, ternyata mas Slamet mencariku. Dia menanyakan aku sekarang dimana dan ada buku yang ingin dia berikan kepadaku. Aku menunggu temanku selesai terlebih dahulu, baru setelah itu aku mengambil buku itu. Akhirnya selesai dan ku ajak sekalian dia ke perpustakaan. Hemmm, setelah dari depan harus kebelakang lagi, tapi gak apalah hitung-hitung menghilangkan rasa penasaran terhadap buku itu. Akhirnya aku dapatkan bukuya, judulnya “” “ada sesuatu dalam buku itu di bagian belakangnya, semoga kamu mengisinya dengan jawaban yang menggembirakan.” Hemmm, mungkin aku butuh teman curhat (kali ya!!!) aku menceritakan kepada temanku itu, mencertakan semuanya tentang keluhku terhadap Mr. D dan proposal yang diajukan oleh sang petugas perpustakaan itu. Temanku mengatakan salut padaku, mungkin dia akan menjauh bila terjadi demikian dengannya karena tidak sanggup menghadapi msalah yang begitu rumit, dua masalah yang berkaitan dengan hati dalam waktu yang bersamaan dan membutuhkan jawaban dan kepastian.
‘Selesai jumatan.’
Ya sudah, aku bergegas untuk tujuan pendidikanku, aku berangkat kuliah dan melaksanakan proses pembelajaran di kampus 2 yang letaknya tepat di depan sungai Berantas. Setelah selesai pembelajaran aku masih punya janji dengan temanku yaitu pergi jalan-jalan pikirku pula menunggu kabar dari temanku yang akan menjemputku. Tapi kehendak Allah berubah, temanku tidak jadi menjemputku dan mas Slamet masih saja memberikan tawaran untuk mengantarku pulang. Yaach, karena aku tidak mau mengecewakan hatinya, akhirnya aku menerima tawarannya. Setelah usai maghrib, mas Slamet segera menjemputku dan menungguku di depan kosku, ternyata dia sudah menungguku sebelumnya di masjid Al- Ikhlas. Dengan segera aku berberes-beres untuk pulang. Hemmm, agak sedikit terpaksa (tapi dari terpaksa jadi terbiasa menjalaninya. Hehehe!)  
            Saya akhirnya jadi diantarkan pulang oleh mas Slamet, dan pada saat sampai di Baron yang seharusnya belok kiri untuk kearah rumah. Saya minta terus lurus ke Kertosono karena saya belum siap pulang. Sesampai di kertosono, kami berhenti di sebuah masjid utara jalan, saya lupa nama masjidnya. Arahnya yaitu selatan rumah sakit kertosono ke barat. Kami shalat isya’ disana dan ngobrol sambil menikmati roti san air mineral satu gelas. Obrolan kami cukup panjang dan entah mengapa aku jadi kasihan atau apa dengan ketulusan mas Slamet. Pukul 20.00 wib kami menuju ke rumah dan tak berapa lama kemudian sampailah di rumah dengan disambut oleh bapak dan ibuku. Orang tuakupun ngobrol dengan mas Slamet dengan cukup lancarnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib mas slamet pamit pulang dan ?????????
            Di hari esoknya, mas Slamet selalu sms dan tidak ku sangka, pada sore hari ternyata mas Slamet sudah sampai di rumahku lagi, hal itu karena di suruh pak andri untuk ngengeditkan tugas istrinya, sementara mereka masih di luar ada kegiatan. Mas Slametpun mengajakku shalat berjamaah diluar dan kami shalat di masjid dekat jalan Raya. Setelah shalat kami mencari makan dan akhirnya ketemu di warung lesehan depan Pasar Baron. Kami habis lumayan banyak karena mas Slamet saat itu hanya bawa uang Pas. Habis Rp. 25.000 padahal ia hanya bawa uang Rp.30.000,. setelah makan waktu isya’ tiba dan kami shalat di Masjid Baron dengan jamaah karena bertepatan dengan waktu isya’ dan hujan gerimis. Usai shalat kami  pulang karena pak andri sudah menelpon agar segera ke rumah. Akhirnya mas slamet mengantarkan saya dan setelah itu ke rumah pak andri untuk lembur mengerjakan tugas.
Pagi hari minggu, jam 9.an mas Slamet menjemput saya dan kamipun kembali ke kediri lewat kertosono lagi untuk membeli kerudung. Saat membeli kerudung rencana mau dibayari tapi saya tidak mau dan akhirnya dibelikan buku sama tasbih. Setelah itu meluncur menuju ke kediri. Singkat cerita malam hari saya menyatakan sedia menjadi istri mas Slamet. Perjalanan panjang menuju pernikahan di jalani dan Tepat Pada tanggal 6 Juni 2013 (27 Rojab 1434 H) kami resmi menjadi Suami Istri.