|
|
Berawal dari kejadian di perpustakaan di siang hari pada
hari Senin tanggal 8 Oktober 2012. Berawal dari kasus kehilangan sejumlah kartu
anggota dari teman-teman. Aku Qori mencoba menelusuri sejumlah kartu yang belum
ada, kenapa bisa terjadi? Dalam perbincangan dengan salah satu staf
perpustakaan yang ada sebut namanya mas Edi, aku belum bisa menemukan
solusinya. Dalam keasyikan perbincangan, sesosok lelaki dengan sedikit
penasaran mencoba menanyakan apa yang terjadi. namun karena kurang jelas dengan
jawaban yang diberikan. Maka lelaki tersebut mendekat dan menanyakan kelas apa?
kemudian Aku menjawab kalau aku kelas 1C jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Maka
lelaki tersebut yang diketahui namanya Mas Slamet. mengenali Aku. Hal tersebut
dikarenakan adik kelasnya (Mr. Sam) adalah teman sekelasku.
Karena rasa tahu tersebut akhirnya
diantara Aku dan Mas Slamet terjadi percakapan yang cukup fair dan serasa sudah
sangat kenal. Aku dan mas Slamet akhirnya bercakap-cakap hingga perpustakaan
tutup. Kami bercakap di pojok perpustakaan di tempat pengecekan buku keluar. Tak
terasa sudah waktu sudah menunjukkan pukul 13.40 WIB dan mas Slamet pun
mengajakku untuk melaksanakan shalat duhur berjamaah. Pada awalnya aku menolak
karena aku ingin melaksanakan shalat duhur di tempat kos saja. Namun, karena
mas slamet mengajak shalat lebih dari 3 kali akhirnya akupun bersedia di ajak
shalat duhur berjamaah. Akhirnya kami melaksanakan shalat duhur berjamaah di
mushola fakultas Ekonomi UNP Kediri. Usai melaksanakan shalat dhuhur berjamaah
dengan orang yang tak pernah Aku kenal sebelumnya, aku bergegas kembali ke
kos-anku yang letaknya tidak jauh dari kampus. Mungkin suatu penghindaran
karena tidak ingin menjadi sesuatu yang berlarut-larut, karena pada hari itu
juga aku menjadi bukan aku. Penyakit pikiran yang sedang menggangguku yang
menyebabkanku harus memutuskan refreshing ke perpustakaan. Masalah yang
benar-benar membuat aku sangat kacau sekali. Beruntung percakapan yang tidak
begitu lama, membuatku lupa akan masalah. Masalah yang mengganggu hari-hariku. Satu
hal yang mengingatkanku dari percakapan yang aneh banget dan dikatakan cukup
panjang, tidak singkat. Dia melamarku padahal aku tahu diapun sedang menunggu
jawaban dari wanita lain. Pada saat itu aku berpikir, itu mungkin hanya gurauan
belaka (biasalah namanya laki-laki, gombal dan bercanda!) aku tiba di kos
langsung berbaring karena memang saat itu lagi puasa dan lelah banget. Tiba-tiba
handphone yang berada disamping telingaku berbunyi, satu pesan masuk. Segera aku
membukanya, ucapan selamat ulang tahun dari nomor baru yang tidak ku kenal
sebelumnya, siapa ya? (pikirku demikian) aku balas dan kenapa bisa tahu kalau
bulan ini aku berulang tahun? Ternyata nomor baru itu adalah lelaki yang
mengajakku sholat berjamaah di perpustakaan tadi, kaget!(hmmm cukup untuk hari
ini berlalu).
Pagi di hari selasa tepat pukul
03.58, pertanyaan yang membuatku kaget dan membingungkan sehingga tak mampu aku
menjawabnya, tertulis di telepon genggamku yang dikirim dari nomor mas Slamet,
lelaki yang jelas-jelas baru aku kenal Senin siang. Dia mengatakan “maukah kamu
menjadi kekasih halal ku?” “izinkan aku meminangmu dengan Bismillah” aku harus
jawab apa pada saat itu, sungguh sangat bingung sekali, agar tidak terlalu
membuatku terlalu kepikiran, aku putuskan untuk sholat shubuh berjamaah dulu di
masjid depan kosku agak ke timur sedikit supaya ada sedikit pencerahan dalam
otakku ini. Usai sholat shubuh, aku berusaha menjawab dengan menata hatiku
dengan teliti dan menjelaskan agar tidak ada yang merasa dikecewakan dan
tersakiti, karena hari-hari itu aku masih memikirkan permasalahanku dengan
teman dekatku sebut saja Mr. D (waktu itu). Permasalahan yang cukup rumit dan
menguras tenaga dan pikiran, yang setiap hari selalu aku dikelilingi dengan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabnya, sungguh sangat
menyakitkan. Sebenarnya sudah ingin sekali aku pergi jauh dari permasalahan
yang selalu tidak pernah ada jawaban kepastiannya “mau diapakan hubungan ini?”
disetiap saat aku masih selalu mengingat-ingat pertanyaan yang diajukan oleh
petugas perpustakaan itu. Mau aku jawab apa? Pikirku. Apa aku jawab aku sudah
ada yang punya (berarti mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dan dia Mr. D
sudah mengatakan hanya berteman saja, tapi anehnya dia tidak mau melepaskanku
itu yang membuatku semakin tergantung hatinya) padahal kenyataannya aku tidak
punya siapa-siapa (dan itu benar), kalau aku jawab demikian berarti aku telah
berbohong. Banyak alasan yang aku berikan kepada petugas itu agar dia tidak
begitu kecewa denganku, tapi sungguh diluar dugaanku, dia malah tetap kokoh
dengan pendiriannya. Salut banget!!! Alasan yang aku berikan kepadanyapun tidak
menyulitkan satu sama lain hanya butuh waktu untuk menjawab semua itu. “Mas,
kita itu baru kenal, kita kenal itu tidak butuh dua/tiga hari langsung bilang
iya, aku belum kenal sama kamu dan kamupun demikian, aku takut kamu kecewa sama
aku. Ya kita jalani saja dulu perkenalan kita ini, seiring waktu yang
menjawabnya.” Itu alasan yang aku berikan kepada mas Slamet. Dengan keikhlasan
dia menjawab “iya Alhamdulillah, Mas tahu kamu bagaimana prinsip hdupnya.
Semoga dengan berjalannya waktu, jawaban menggembirakan akan mas dapat, rumah
mas di rumah Alah, jamaah dalam sholat, semoga tetap bisa terlaksana.” Jujur
baru kali ini ada cowok yang langsung melamarku. Tapi aku masih tidak percaya
dengan semua ini, sampai-sampai teman ku yang aku ceritakan (adiknya mas
Slamet) aku katakan kalau itu hanya sebuah gurauan. Alasan-alasan yang ku
sampaikan kepadanyapun setiap hari masih ku ingat. Malam setelah magrib, aku
diajak berbuka puasa bareng sama mas Slamet dan aku merencanakan menjelaskan
semuanya. Dan malam itu menjadi kencan pertamaku bersama mas Slamet. Di warung
bakso pinggir jalan, warung bakso Barokah namanya. Di situ pulalah aku
menjelaskan kepadanya, siapa aku dan bagaimana aku. Walaupun bukan di tempat
seperti itu menjelaskan hal yang sangat serius. Penjelasan hati itu sudah aku
rencanakan sebelumnya agar permasalahannya menjadi lurus dan terang. Kesempatan
itu terlaksana dan mendapatkan kesimpulan kita menjalani pertemuan ini. Di
setiap kesempatan aku masih saja pergi ke perpustakaan, masih dengan hal yang
sama, yaitu tanggungjawabku terhadap teman-temanku karena aku ketua kelas,
kalau aku tidak pernah tegar dalam menghadapi semacam itu, mungkin aku tidak
pernah berani lagi datang ke perpustakaan dan menemui pemuda itu, apalagi
bercengkerama dengannya.
Jumat pagi, aku ada janji dengan
temanku Yulia namanya. Sambil aku menunggunya, aku pun ke perpustakaan, tidak
hal lain yang tidak asing lagi, hal sama yaitu memperbaiki kartu anggota
perpustakaan teman sekelasku. Aku bertemu lagi dengan mas Slamet dan saling
berbincang lagi, karena pada saat itu hari jumat dan jadwalku untuk pulang
kampung (hehehe) mas Slamet menawarkan untuk mengantarkanku pulang ke Nganjuk
(Termas Babadan Patianrowo). Awalnya aku menolaknya karena aku juga ada janji
dengan temanku akan menjemputku usai maghrib. Setelah urusan kartu selesai dan
masuk waktu sholat jumat, mas Slamet pun bersiap-siap sholat jumat dan aku
segera mencari temanku yang sedang mengikuti tes masuk Himaprodi (kalau SMA
sama dengan OSIS). Setelah aku menemui ruangan temanku, ternyata mas Slamet
mencariku. Dia menanyakan aku sekarang dimana dan ada buku yang ingin dia
berikan kepadaku. Aku menunggu temanku selesai terlebih dahulu, baru setelah
itu aku mengambil buku itu. Akhirnya selesai dan ku ajak sekalian dia ke
perpustakaan. Hemmm, setelah dari depan harus kebelakang lagi, tapi gak apalah
hitung-hitung menghilangkan rasa penasaran terhadap buku itu. Akhirnya aku
dapatkan bukuya, judulnya “” “ada sesuatu dalam buku itu di bagian belakangnya,
semoga kamu mengisinya dengan jawaban yang menggembirakan.” Hemmm, mungkin aku
butuh teman curhat (kali ya!!!) aku menceritakan kepada temanku itu,
mencertakan semuanya tentang keluhku terhadap Mr. D dan proposal yang diajukan
oleh sang petugas perpustakaan itu. Temanku mengatakan salut padaku, mungkin
dia akan menjauh bila terjadi demikian dengannya karena tidak sanggup
menghadapi msalah yang begitu rumit, dua masalah yang berkaitan dengan hati
dalam waktu yang bersamaan dan membutuhkan jawaban dan kepastian.
‘Selesai
jumatan.’
Ya sudah, aku bergegas untuk tujuan
pendidikanku, aku berangkat kuliah dan melaksanakan proses pembelajaran di
kampus 2 yang letaknya tepat di depan sungai Berantas. Setelah selesai
pembelajaran aku masih punya janji dengan temanku yaitu pergi jalan-jalan
pikirku pula menunggu kabar dari temanku yang akan menjemputku. Tapi kehendak
Allah berubah, temanku tidak jadi menjemputku dan mas Slamet masih saja
memberikan tawaran untuk mengantarku pulang. Yaach, karena aku tidak mau
mengecewakan hatinya, akhirnya aku menerima tawarannya. Setelah usai maghrib,
mas Slamet segera menjemputku dan menungguku di depan kosku, ternyata dia sudah
menungguku sebelumnya di masjid Al- Ikhlas. Dengan segera aku berberes-beres
untuk pulang. Hemmm, agak sedikit terpaksa (tapi dari terpaksa jadi terbiasa
menjalaninya. Hehehe!)
Saya
akhirnya jadi diantarkan pulang oleh mas Slamet, dan pada saat sampai di Baron
yang seharusnya belok kiri untuk kearah rumah. Saya minta terus lurus ke
Kertosono karena saya belum siap pulang. Sesampai di kertosono, kami berhenti
di sebuah masjid utara jalan, saya lupa nama masjidnya. Arahnya yaitu selatan
rumah sakit kertosono ke barat. Kami shalat isya’ disana dan ngobrol sambil
menikmati roti san air mineral satu gelas. Obrolan kami cukup panjang dan entah
mengapa aku jadi kasihan atau apa dengan ketulusan mas Slamet. Pukul 20.00 wib
kami menuju ke rumah dan tak berapa lama kemudian sampailah di rumah dengan
disambut oleh bapak dan ibuku. Orang tuakupun ngobrol dengan mas Slamet dengan
cukup lancarnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib mas slamet
pamit pulang dan ?????????
Di
hari esoknya, mas Slamet selalu sms dan tidak ku sangka, pada sore hari
ternyata mas Slamet sudah sampai di rumahku lagi, hal itu karena di suruh pak
andri untuk ngengeditkan tugas istrinya, sementara mereka masih di luar ada
kegiatan. Mas Slametpun mengajakku shalat berjamaah diluar dan kami shalat di
masjid dekat jalan Raya. Setelah shalat kami mencari makan dan akhirnya ketemu
di warung lesehan depan Pasar Baron. Kami habis lumayan banyak karena mas
Slamet saat itu hanya bawa uang Pas. Habis Rp. 25.000 padahal ia hanya bawa
uang Rp.30.000,. setelah makan waktu isya’ tiba dan kami shalat di Masjid Baron
dengan jamaah karena bertepatan dengan waktu isya’ dan hujan gerimis. Usai
shalat kami pulang karena pak andri
sudah menelpon agar segera ke rumah. Akhirnya mas slamet mengantarkan saya dan
setelah itu ke rumah pak andri untuk lembur mengerjakan tugas.
Pagi hari minggu, jam
9.an mas Slamet menjemput saya dan kamipun kembali ke kediri lewat kertosono
lagi untuk membeli kerudung. Saat membeli kerudung rencana mau dibayari tapi
saya tidak mau dan akhirnya dibelikan buku sama tasbih. Setelah itu meluncur
menuju ke kediri. Singkat cerita malam hari saya menyatakan sedia menjadi istri
mas Slamet. Perjalanan panjang menuju pernikahan di jalani dan Tepat Pada
tanggal 6 Juni 2013 (27 Rojab 1434 H) kami resmi menjadi Suami Istri.